Moral Hancur, Banyak Tentara Suriah Membelot
sumber ; http://international.okezone.com
Senin, 26 November 2012 16:18 wib
Militer Suriah (Foto: Reuters)
DAMASKUS – Banyak tentara Suriah yang membelot ke pihak oposisi. Mereka kabur dari pasukannya ketika berada di luar pengawasan komandan mereka.
Tentara suriah membelot karena tidak mau melawan kerabat mereka sendiri yang berjuang untuk pihak oposisi. Kondisi ini menunjukkan hancurnya moral dari prajurit Suriah.
“Pemerintah Suriah seringkali mengirimkan pasukan untuk bertempur di tempat asalnya. Di sana yang para tentara tersebut temukan bukanlah teroris, namun para kerabat mereka yang mengangkat senjata untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad," ujar Abu Obaida, seperti dikutip Christian Science Monitor,Senin (26/11/2012).
“Banyak tentara yang moralnya hancur. Mereka tidak dapat bertempur untuk pemerintah dengan sepenuh hati ketika banyak anggota keluarganya meminta mereka untuk mebelot ke pihak oposisi”, ucap salah satu tentara Suriah lainnya yang membelot, Bassam Humidy.
Banyak tentara yang diketahui ingin membelot langsung ditarik dari lapangan dan diawasi secara ketat oleh komandan mereka. Senjata yang mereka miliki juga ditarik oleh pihak pemerintah yang takut senjata tersebut akan dibawa mereka saat membelot.
Selain tentara aksi membelot juga dilakukan oleh aparat kepolisian Suriah. Polisi Suriah juga dikerahkan oleh pemerintah untuk membantu tentara bertempur melawan pihak oposisi. Polisi lebih mudah untuk membelot karena tidak tinggal di dalam mes.
Seorang poisi yang membelot ke pihak oposisi Abu al-Homsi, menceritakan sekitar 70 orang dari kesatuannya di Kota Allepo membelot untuk ikut berjuang dengan kelompok oposisi. Homsi menyatakan, saat ini unit kepolisian tempat dia bekerja hanya tinggal terdiri dari 11 orang. Polisi yang tersisa tersebut kemudian dipaksa tinggal dalam markas militer dan diawasi secara ketat.
Walaupun banyak menerima tenaga dari tentara suriah yang membelot, pihak oposisi juga memiliki masalahnya sendiri. Mereka dilaporkan mengalami kekurangan persenjataan untuk melawan pasukan pemerintah.
“Tidak ada cukup senjata dan amunisi, jika kami memiliki cukup persenjataan. Saya yakin kami dapat menyelesaikan konflik dalam dua minggu saja. Saya memberikan hukuman bila tentara saya tidak dapat membunuh lawan dengan peluru yang dimilikinya," ujar Mahmoud Nadoum pimpinan pejuang oposisi di Kota Aleppo.(faj)
Tentara suriah membelot karena tidak mau melawan kerabat mereka sendiri yang berjuang untuk pihak oposisi. Kondisi ini menunjukkan hancurnya moral dari prajurit Suriah.
“Pemerintah Suriah seringkali mengirimkan pasukan untuk bertempur di tempat asalnya. Di sana yang para tentara tersebut temukan bukanlah teroris, namun para kerabat mereka yang mengangkat senjata untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad," ujar Abu Obaida, seperti dikutip Christian Science Monitor,Senin (26/11/2012).
“Banyak tentara yang moralnya hancur. Mereka tidak dapat bertempur untuk pemerintah dengan sepenuh hati ketika banyak anggota keluarganya meminta mereka untuk mebelot ke pihak oposisi”, ucap salah satu tentara Suriah lainnya yang membelot, Bassam Humidy.
Banyak tentara yang diketahui ingin membelot langsung ditarik dari lapangan dan diawasi secara ketat oleh komandan mereka. Senjata yang mereka miliki juga ditarik oleh pihak pemerintah yang takut senjata tersebut akan dibawa mereka saat membelot.
Selain tentara aksi membelot juga dilakukan oleh aparat kepolisian Suriah. Polisi Suriah juga dikerahkan oleh pemerintah untuk membantu tentara bertempur melawan pihak oposisi. Polisi lebih mudah untuk membelot karena tidak tinggal di dalam mes.
Seorang poisi yang membelot ke pihak oposisi Abu al-Homsi, menceritakan sekitar 70 orang dari kesatuannya di Kota Allepo membelot untuk ikut berjuang dengan kelompok oposisi. Homsi menyatakan, saat ini unit kepolisian tempat dia bekerja hanya tinggal terdiri dari 11 orang. Polisi yang tersisa tersebut kemudian dipaksa tinggal dalam markas militer dan diawasi secara ketat.
Walaupun banyak menerima tenaga dari tentara suriah yang membelot, pihak oposisi juga memiliki masalahnya sendiri. Mereka dilaporkan mengalami kekurangan persenjataan untuk melawan pasukan pemerintah.
“Tidak ada cukup senjata dan amunisi, jika kami memiliki cukup persenjataan. Saya yakin kami dapat menyelesaikan konflik dalam dua minggu saja. Saya memberikan hukuman bila tentara saya tidak dapat membunuh lawan dengan peluru yang dimilikinya," ujar Mahmoud Nadoum pimpinan pejuang oposisi di Kota Aleppo.(faj)

.jpg)


Leave Comments